Elegi di Antara Jejak Kita
Karya: Jennyfer Claudia BudiKita pernah menjadi dua bait
Dalam sajak yang di tulis waktu
Berjalan di lorong hari tanpa takut
Menertawakan dunia yang terasa semu.
Tawamu dahulu adalah renjana
Hangat, seperti matahari yang singgah di jendela
Sementara kisah-kisah kita menjelma melodi
Yang tak pernah bosan didendangkan senja.
Kita pernah menanam mimpi di halaman kecil bernama persahabatan
Menyiramnya dengan tawa dan air mata
Berharap ia tumbuh melampaui musim.
Namun, waktu datang sebagai pengembara
Mencuri satu demi satu halaman kehidupan
Jarak menjelma dinding yang tak kasatmata
Memisahkan langkah tanpa sempat meminta izin.
Kini, bangku tua itu masih menunggu
Seolah waktu belum tahu kita telah berlalu
Angin menyisir sudut-sudut yang pernah kita lalui
Membisikkan namamu kepada sunyi.
Aku memungut sisa-sisa kenangan yang berserakan di dasar ingatan
Satu tawa, satu cerita, satu pelukan
Semuanya menjadi serpihan nostalgia
yang diam-diam melukai genggaman
Sahabat, jika waktu adalah samudra
Mungkin kita hanyalah dua perahu
Yang pernah berlayar berdampingan
Lalu dipisahkan ombak menuju dermaga berbeda.
Tetapi percayalah, meski langkah kita tak lagi seirama
Namamu akan tetap tinggal
Di relung paling sunyi dalam jiwa
Seperti aksara yang enggan dihapus oleh waktu.
Dan bila kelak senja menua serta rambut kita memutih bersama usia
Aku ingin mengingat kita bukan sebagai kehilangan
Melainkan sebagai sebuah keajaiban
Dua manusia yang pernah dipertemukan
Untuk menciptakan kenangan yang bahkan waktu tak sanggup menguburnya.
Batam, 16 September 2026