Pelukan yang tak sempat
Karya: Lisda Puspita Sari ZegaHari itu aku pergi,
meninggalkan rumah dan Ayah tercinta.
Koper di tangan, air mata tertahan,
aku melangkah menuju tempat yang jauh.
Saat berpamitan,
aku hanya berkata, “Ayah, aku pergi.”
Tanpa pelukan, tanpa genggaman tangan,
tanpa kusadari, itu menjadi penyesalan.
Kini di asrama yang jauh,
aku menangis tersedu-sedu dalam diam.
Andai waktu bisa kuputar kembali,
aku ingin berlari memeluk Ayah,
menyandarkan kepala di dadanya,
dan berkata, “Ayah, maafkan aku.”
Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Selama itu, mungkin hanya rindu
yang menjadi teman dalam tidurku.
Ayah, maafkan aku.
Aku menyesal karena saat terakhir itu,
aku tidak sempat memelukmu.
Semoga ketika kita bertemu kembali,
pelukan itu masih menungguku.
Medan, 26 September 2026