Fisika Tuhan
Karya: Heru Sumarno, S.S., Gr., TEFL & TESOL Cert.Jatuh.
Bukan sekadar kehilangan arah—
sebab nama itu menolak pulang,
waktu terlempar jauh
dari lintasannya.
Ke titik pusat,
ingatan menarikku:
presisi, tanpa belas.
Tak ada rumus
bagi sebuah sebab.
Di hadapan-Mu,
kata-kata terlambat
mengeras di rongga lidah.
Nama itu—
dulu kusebut tanpa gemetar—
menjelma gravitasi:
meremukkan dada,
mematahkan rusuk.
Makin jauh berlari,
makin dekat akibat.
Bentang jarak memanjang;
pusat tak pernah bergeser.
Setiap lintasan
mengembalikan jejaknya:
ketukan pada rusuk retak—
oleh tanganku sendiri.
Pulang bukan kembali.
Pulang: berhenti berpaling,
melepaskan segala perisai,
mengaku:
aku jatuh.
Bukan ke dalam kehilangan,
melainkan ke pusat
yang kubangun sendiri.
Malang, 26 September 2026