Kenangan Yang Tak Pernah Satu Tuhan
Karya: Melisa Sukma RahayuKenangan?
Aku masih menyimpannya dengan sangat rapih, di dalam kotak berbentuk hati.
Bukan.. Bukan fotonya.. Tapi.. Rasanya. Bahagia kita jelang pagi yg sama, langit yang sama, bumi yang sama, tapi doa kita di arah yang berbeda.
Angan kita menggoda kita untuk berjanji selamanya bersama.
Lupa.. bahwa selamanya Tuhan kita akan tetap berbeda. Berbeda cara menyebut-Nya.
Sorot mata yang menembus hati hingga terasa hangat, masih aku ingat, masih aku kenang.
Ia bercerita bahwa ia ingin tinggal, tapi ia dipaksa air mata untuk segera pergi.
Kita berakhir bukan karena tak cinta, kita selesai karena terlalu cinta.
Dua hati menyatu tapi tidak untuk pikiran.
Pikiran yang keras dengan masing-masing iman.
Semua masih ku ingat, di mana bahu lebar itu melindungiku.
Semua masih ku ingat, di mana lengan panjang itu mendekapku.
Dan semua masih ku ingat, setiap rasa yang kau berikan melekat, bahkan menjerat.
Sekarang jika aku rindu, aku memilih untuk menyebut Tuhanku, bukan namamu.
Tidak. Aku tidak melupakan mu, tapi ini caraku tetap mengenangmu.
"Jaga dia Tuhan.. Jaga dia dengan cara-Mu."
Aku pun berharap, di suatu tempat yang jauh, yang mungkin aku tidak bisa menemukan mu kembali, kau juga mendoakanku, dengan caramu.
Biarlah kenangan ini tidur menjagaku disetiap malamku.
Meskipun kenangan ini, "Kenangan yang tak pernah satu Tuhan".
Jakarta, 21 September 2026