Melihat Isi Draft
Karya: Rina FitriyanaPesan Lampu jalanan di luar jendela berkedip acak. Aku duduk sendirian menghitung sisa es kopi yang mencair di gelas plastik. Malam itu, ego membuatku memilih tetap diam saat langkah sepatumu menjauh membelah koridor. Harusnya tanganku bergerak menahan ujung jaket hitammu, bukan malah mengunci rapat pintu itu. Sekarang, isi room chat kita berubah menjadi kuburan digital yang sangat sepi sekali. Hanya ada centang satu abu-abu dan tumpukan ketikan draf pesan yang tak berani ku kirimkan. Penyesalan selalu tahu cara kerja paling brengsek di dalam kepala ini. Ia memutar ulang detik-detik saat tatapan matamu meredup karena kalimat kasar ku. Aku kalah telak. Menyadari keangkuhan bodoh ini telah menghancurkan satu-satunya tempat pulang.Ternyata, merayakan kehilangan sendirian di kamar sempit adalah cara terbaik untuk sadar, bahwa akulah orang yang menghabisi kita tanpa sisa.
Tangerang, 20 September 2026