Ruang Silam
Karya: Witta Perdana PutriRuang Silam
Di sebuah ruang yang tak lagi mengenal cahaya,
aku menyimpan reruntuhan sebuah kerajaan
yang dahulu kubangun dari percaya.
Di sana, namamu masih terukir pada dinding waktu,
seperti titah yang lupa dicabut oleh musim.
Aku pernah menjadi perempuan
yang menunggu di beranda senja,
mengenakan sabar seperti mahkota,
sementara kau datang membawa janji
yang rupanya hanya pandai menjelma dusta.
Kini, setiap kali malam menurunkan tirainya,
kenangan itu pulang tanpa permisi.
Ia duduk di singgasana dadaku,
menyebut namamu dengan bahasa luka,
lalu membiarkan sunyi menghakimiku seorang diri.
Betapa ganjil masa silam
ia tak punya tangan,
namun mampu menyentuh luka yang telah lama kukubur.
Tak punya suara,
namun sanggup menggemakan perpisahan
berulang-ulang di dalam kepala.
Barangkali begitulah sasmita bekerja:
sebuah isyarat kecil dari sesuatu yang telah tiada,
namun masih mampu membuat hati berduka.
Dan aku, perempuan yang pernah mencintaimu,
masih membaca pertandanya pada setiap kehilangan.
Tidak, aku tak ingin kembali.
Biarlah istana itu runtuh bersama segala sumpahnya.
Biarlah namamu menjadi aksara tua
yang perlahan kehilangan makna
di antara lembar-lembar hidupku.
Sebab kini aku mengerti
tidak semua yang pernah kita sebut rumah
layak menjadi tempat untuk pulang.
Maka akan kututup Ruang Silam itu perlahan,
bukan karena aku telah lupa,
melainkan karena akhirnya kusadari:
ada kenangan yang cukup dikenang,
tanpa harus kembali dilukai.
Padang, 10 September 2026