Pukul Tiga Pagi, Kutatap Pintu Kamar Abang dengan Sunyi
Karya: Almira Imla Nur'ainiKepada abangku, yang akal sehatnya tertinggal di dunia kekanak-kanakan yang kerap membuatku malu pada dunia luar. Bilamana Tuhan memberi aku kesempatan untuk sekali lagi melihatnya mengekor di belakangku, akan kutarik tanganmu dan kugenggam erat. Sebab terlampau sering aku menepis kehadiranmu karena gengsi yang tidak ada habisnya.
Kepada abangku, yang hari-harinya dihabiskan dengan merengek dan berbicara dalam bahasa asing yang hanya dipahami dirinya sendiri. Bilamana Tuhan mengizinkan waktu berputar kembali, akan kudengar ocehan tidak jelasmu. Sebab terlalu sering aku membentak dan mengunci pintu kamar agar tidak melihat wajahmu.
Maafkan aku, karena belum cukup menjadi adik yang tahu berterima kasih pada ketulusan dunianya, maafkan aku karena sempat kuanggap keterbatasanmu sebagai aib yang membebani hari-hariku. Maafkan aku, karena tak sempat membisikkan kehangatan semasa abang masih bernapas.
Banten, 4 Oktober 2026