Kursi yang Menyimpan Namamu
Karya: Bernadetha filiata mbabhoDi meja makan rumah kami yang seadanya,
ada satu kursi yang tak lagi bernama,
tapi di sanalah kenangan duduk paling lama,
menunggu aku pulang dengan cerita.
Aku masih sepuluh tahun ketika kabar itu tiba,
dibawa angin dari Flores yang jauh,
tanpa pelukan terakhir, tanpa kata pamit,
hanya sebaris kabar yang membelah hidup jadi dua.
Kadang kuingat tawamu, Ayah,
samar seperti lagu yang lupa liriknya,
tapi hangatnya masih tinggal di dada,
seperti matahari yang pergi namun meninggalkan terang.
Ibu, perempuan yang menyimpan air matanya di balik doa,
berdiri di antara kehilangan dan harapan,
menjadi ayah, menjadi ibu, menjadi rumah,
dan tak sekali pun membuatku merasa sendirian.
Aku mengenang tanganmu yang tak pernah berhenti bekerja,
suaramu yang menyapa semua orang dengan ramah,
dan malam-malam ketika kita menutup hari dengan doa,
sederhana, tapi di sanalah aku belajar arti pulang.
Aku anak satu-satunya, penjaga semua kenangan ini.
Tak ada kakak untuk mengingat bersama,
tak ada adik untuk berbagi rindu,
maka kutulis semuanya agar tak ada yang hilang.
Kini aku tumbuh dan melangkah lebih jauh,
bertemu orang-orang baik di setiap tikungan,
mungkin buah dari kebaikan yang ibu tanam
dan doa yang diam-diam mengikuti langkahku.
Kenangan bukan rantai yang menahanku di masa lalu,
ia pelita kecil yang kubawa ke mana pun pergi.
Dan suatu hari nanti, akan kuceritakan pada dunia
bahwa cinta pernah tinggal di rumah kami yang seadanya.
Noemuti 31 desember 2025