Amatir Dalam Ikhlas
Karya: Grexida Thantry MaliKala itu,
Kau berdiri tegak di depanku.
Kemeja batik bertengger gagah di tubuhmu.
Senyum indah terukir di wajahmu.
Aku tersenyum kecil, aku pikir,
senyum indah itu akan kulihat setiap saat.
Namun, nyatanya itu adalah senyuman terakhir
sebelum akhirnya kau terbaring kaku di ruangan itu,
ruangan yang menciptakan rasa trauma.
Senyum indahmu hilang,
tergantikan dengan wajah pucat tanpa ekspresi.
Ada kalanya hati ini menjerit dan bertanya,
"Mengapa? Mengapa harus ayah?"
Ternyata benar adanya,
soal ikhlas aku masih sangat amatir.
Kefamenanu, 01 Oktober 2026