Tangan Perkasa
Karya: IndrawatiDI ANTARA JURANG
Diam dalam gemericik hujan,
kupandangi pilu butiran-butiran yang luruh ke pangkuan bumi.
Di dadaku, luka kusimpan paling rapi,
bagai gendang duka yang ditabuh tanpa ampun.
Inilah jalan yang kutempuh sendiri,
meniti hari sambil mencekik takdirku sendiri.
Menyibak tabir yang kian membatu,
yang menabur sembilu di setiap detik nafasku.
Tersesat di dimensi yang asing,
terjepit di antara janji dan sumpah yang telah usang.
Manisnya dahulu semanis madu,
kini menjelma bisa yang melumat perlahan.
Dan kini aku berdiri,
di bibir jurang penyesalan yang paling curam.
Di antara dua pilihan
maju ... mati dalam kebisuan yang tak berdaya,
atau mundur dan hancur perlahan dalam kepasrahan yang abadi.
Aku lelah ...
Aku pasrah ...
Tak berdaya,
hingga rasaku mati perlahan, dan tanpa nisan.
Kalimantan Barat, 2 Oktober 2026