Satu, dua, tiga
Karya: Jelita N. V. HutasoitKetika kata tak lagi mampu bicara,
tertunduk aku di atas kertas kosong yang menganga.
Satu, dua, tiga
Jarum di jam dinding terus berputar,
tetapi jemariku terpaku membatu.
Satu, dua, tiga
Matahari mulai habis ditelan kegelapan,
tetapi penaku masih berdiam diri.
Satu, dua, tiga
Jantungku berpacu semakin cepat,
tetapi pilu tak dapat kucegat.
Erat, kugenggam semakin erat,
tetapi tak ada lagi yang tersisa.
Keangkuhan telah dicumbu mesra sesal,
sajakku tak lagi bisa bersuara.
Aku telah terlambat.
Medan, 1 September 2026