Menari di teaterku
Karya: Neltyanzhu yanjuJejak hujan tempatku menguburmu masih terbayang rindu, dengan mimpi-mimpi khayalan nan terus mengejar fantasi ranjauan.
Menyalin kembaranmu dalam relung bayang-bayangku, dan terhempas tenggelam salinanku.
Laksana marmoris yang tenggelam dalam sepi, setiap sudut kisah klasikmu selalu terputar tiap senja hari.
Larut dalam sekilas hati.
Larut dalam bayangan diri.
Pada akhirnya, aliran bayang-bayang itu selalu mengalir mengarungi setiap melodi diksi-diksi rupawan, dan terbenam dalam lirikan samudra sayu.
Menjadikanmu sosok empiris yang tak lagi semu dalam fantasiku.
Setahun kemudian, aku menyadari bahwa sosok empiris itu tak lebih hanyalah tulang-belulang tanpa ragamu.
Dua tahun kemudian, aku menyadari bahwa sosok empiris itu ialah simpul abu nan bangkit di antara kelabu.
Suatu waktu, jika kau kebetulan berpapasan denganku.
Yang ku rawankan bukanlah paras gagahmu, walakin kenangan nan terputar menjagalku.
Toboali, 30 September 2026