Negeri seadanya
Karya: Noor Maulifah
Di labirin rimba yang linglung dan ganjil,
hukum bertubuh kerdil disuap terpingkil.
Di balik gunung emas Timur mengalir air mata,
jiwa-jiwa pasrah menari di panggung nestapa.
Aturan berlari cepat bagai tiupan angin,
penguasa menari riang di panggung dingin.
Jerit kaum jelata tenggelam di lautan curiga,
keadilan menjelma bangkai tak berharga.
Pasar-pasar mencekik dompet yang kempis,
keringat bidak catur menetes di piring teriris.
Gedung-gedung megah menatap angkuh ke bawah,
sementara paras muram memeluk erat gelisah.
Pendidikan menjelma dinding raksasa yang tinggi,
di atas samudra emas musafir luka merugi.
Kejujuran telah mati bernapas sumbang,
marwah bangsa melayang jauh dibawa terbang.
Saujana ditelan kabut pekat,
kebijakan gila mencekik erat.
Terombang-ambing pada takdir yang menertawakan,
raga-raga renta tetap bernyawa dalam kepasrahan.
Sedangkan tupai lagi gawai,
Sesal diriku tak mampu menuai,
Api menjilat dalam sunyi,
Rumah pun hilang, menyisakan sepi.
Binuang, 1 Oktober 2026