Sapa Penyesalan di Balik Prestasi
Karya: NurulDahulu,
lahirlah seorang putri kecil
dengan kedua tangan yang begitu mungil,
mencari hangat pada dada yang seharusnya menjadi rumah.
Ia tumbuh bersama harapan sederhana—
bukan mahkota,
bukan tepuk tangan,
bukan pula gelar yang tertulis di atas namanya.
Ia hanya ingin satu hal:
dipeluk.
Namun tahun-tahun berjalan seperti angin
yang tak pernah mau berhenti.
“Belajarlah.”
“Kau harus menjadi yang terbaik.”
“Jangan mengecewakan kami.”
Dan ia menurut.
Bukan karena ia tak memiliki kehendak,
melainkan karena dalam pikirannya yang masih kecil,
ia percaya—
mungkin suatu hari nanti,
jika ia cukup patuh,
jika ia cukup pintar,
jika ia cukup sempurna,
mātr̥-pitr̥ bhakti—
pengabdiannya kepada orang tua—
akan dibalas dengan kasih yang selama ini ia cari.
Maka ia belajar ketika yang lain bermain.
Ia tersenyum ketika hatinya lelah.
Ia berdiri kembali ketika tubuhnya meminta berhenti.
Hingga suatu hari,
namanya disebut sebagai juara.
Peringkat pertama.
Atau mungkin kedua.
Ia pulang membawa sebuah medali,
menggenggamnya erat,
dengan sepasang mata yang diam-diam berharap:
“Kali ini… mungkin mereka akan bangga.”
Namun yang datang bukan pelukan.
Bukan senyum.
Bukan kalimat,
“Kami bangga padamu, Nak.”
Melainkan—
“Pertahankan prestasi itu.”
Dan kalimat yang lebih tajam
daripada ribuan anak panah:
“Jangan membuat kami menyesal telah melahirkanmu ke dunia.”
Saat itu,
sesuatu di dalam dirinya runtuh.
Medali yang dahulu ia kira merupakan kunci menuju kasih sayang
ternyata hanyalah rantai.
Ia akhirnya mengerti.
Selama ini ia bukan anak yang sedang dibimbing.
Ia hanyalah boneka
yang digerakkan oleh tangan-tangan
yang tak pernah bertanya apakah ia lelah.
Tak seorang pun bertanya,
“Apakah kau baik-baik saja?”
Tak seorang pun melihat
bahwa di balik prestasi yang gemilang
ada seorang anak yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Ketika rumah berubah menjadi medan pertengkaran,
ia berdiri di tengahnya.
Mencoba mendamaikan.
Mencoba menjadi penengah.
Namun setiap kemarahan yang tak terselesaikan
justru menemukan tubuh kecilnya
sebagai tempat untuk berlabuh.
Malam itu,
ia menatap langit dari balik jendela.
Air matanya jatuh perlahan.
Dengan suara yang hampir tak terdengar,
ia berdoa,
“Tuhan…
mengapa rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang
justru menjadi tempat yang paling membuatku terluka?”
Ia menundukkan kepala.
“Jika aku memang sebuah anugerah,
mengapa tak seorang pun pernah memperlakukanku seperti anugerah?”
Lalu ia menangis
hingga tertidur dalam keheningan.
Hari berganti hari.
Bulan berganti bulan.
Hingga sebuah kenyataan datang
yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
Kanker.
Sebuah penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya,
mengambil tenaganya sedikit demi sedikit.
Namun sekali lagi,
ia memilih diam.
Bukan karena ia ingin menghilang.
Melainkan karena ia sudah terlalu terbiasa
menyembunyikan rasa sakitnya sendiri.
Ia takut penyakitnya akan dianggap sebagai kelemahan.
Takut orang tuanya lebih kecewa
daripada khawatir.
Dan akhirnya,
ia menulis sebuah surat.
Bukan surat kemarahan.
Bukan pula surat untuk menyalahkan.
Hanya beberapa lembar kata
dari seorang anak
yang sepanjang hidupnya menunggu satu kalimat sederhana:
“Kami sayang padamu, Nak.”
Malam itu,
ia menulis dengan tangan yang semakin lemah.
“Ayah, Ibu,
aku tidak pernah benar-benar meminta menjadi anak yang sempurna.
Aku hanya ingin menjadi anak kalian.
Aku ingin ketika pulang membawa medali,
kalian memelukku.
Aku ingin ketika aku gagal,
kalian mengatakan bahwa aku boleh mencoba lagi.
Aku ingin ketika aku sakit,
kalian bertanya apakah aku baik-baik saja.
Tetapi mungkin aku terlalu lama menunggu
sesuatu yang tidak pernah kalian sadari sedang kutunggu.
Jika suatu hari aku tidak lagi berada di rumah ini,
jangan ingat aku sebagai peringkat pertama, kedua,
atau sebagai anak yang harus selalu sempurna.
Ingatlah aku sebagai putri kalian.
Karena hanya itu yang sebenarnya ingin menjadi diriku.”
Beberapa waktu kemudian,
penyakit itu akhirnya merenggut kesempatan
yang tidak pernah ia dapatkan untuk berbicara lebih panjang.
Rumah yang dahulu dipenuhi suara pertengkaran
mendadak menjadi sunyi.
Terlalu sunyi.
Dan untuk pertama kalinya,
kedua orang tuanya melihat rumah itu
bukan sebagai tempat tinggal,
melainkan sebagai tempat
yang menyimpan terlalu banyak penyesalan.
Di atas meja,
mereka menemukan surat itu.
Mereka membacanya perlahan.
Lalu menangis.
Bukan lagi karena prestasi yang hilang.
Bukan karena nama keluarga yang tak lagi membawa kebanggaan.
Melainkan karena mereka akhirnya memahami—
anak yang selama ini mereka paksa untuk menjadi sempurna
ternyata hanya ingin dicintai.
Mereka memohon kepada Tuhan.
Meminta satu kesempatan lagi.
Satu hari saja.
Satu pelukan.
Satu percakapan.
Satu kesempatan untuk berkata,
“Maaf, Nak. Kami sangat mencintaimu.”
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur.
Hujan turun malam itu.
Petir menggema di langit.
Dan di antara suara hujan,
mereka hanya mampu memeluk pakaian kecil
yang pernah dikenakan putri mereka.
Seolah langit sedang mengingatkan:
anugerah yang tidak dijaga
dapat berubah menjadi penyesalan yang tidak berujung.
Mereka telah menerima anugraha,
tetapi lupa memberinya prema.
Dan ketika yang tersisa hanyalah śoka,
mereka baru menyadari—
tidak semua kesalahan
dapat diperbaiki dengan kata maaf.
Sebab ada waktu
yang tidak dapat diputar kembali.
Ada pelukan
yang terlambat diberikan.
Ada kata “sayang”
yang terlalu lama disimpan.
Dan ada seseorang
yang dahulu setiap hari menunggu mereka berkata,
“Kami bangga padamu, Nak.”
Namun kalimat itu
baru mereka ucapkan
ketika putrinya sudah tidak dapat mendengarnya.
Sejak hari itu,
mereka tetap hidup.
Tetapi setiap malam
selalu ada satu kursi kosong.
Satu kamar yang tidak lagi berpenghuni.
Satu nama yang tidak pernah lagi dipanggil.
Dan satu penyesalan
yang tidak pernah menemukan akhir.
Karena terkadang,
Tuhan tidak mengambil sesuatu
untuk menghukum manusia.
Terkadang, kehilangan hanyalah pengingat
bahwa sesuatu yang pernah dipercayakan kepada kita
seharusnya dijaga ketika masih ada.
Sebab ketika anugraha itu telah pergi,
yang tersisa bukan kesempatan kedua.
Melainkan kenangan.
Dan penyesalan.
Bandung, 28 September 2026