Gema di Dada
Karya: Shafiahura Rayhan Abyas EffendiDi ambang senja, kenangan pulang,
membawa riuh tawa yang kini menjelma sunyi.
Namamu mengendap di sela napas,
seperti doa yang kehilangan alamat.
Aku memungut serpih hari dari lantai waktu,
namun setiap genggam berubah menjadi luka.
Isak menetes di pipi malam;
air mata menjadi aksara yang tak terbaca.
Dulu, pelukan adalah rumah,
kini, ia hanya gema di dada.
Aku ingin waktu berbalik,
tetapi jarumnya terlalu fasih mengajarkan perpisahan.
Jika rindu memiliki suara,
barangkali ia akan memanggilmu lirih,
menyusuri lorong ingatan yang pudar.
Dan ketika pagi membuka jendela,
aku tetap menemukanmu:
bukan sebagai hadir,
melainkan sebagai kenangan
yang diam-diam masih bernapas.
Klaten, 1 Oktober 2026