Namamu dalam Selaksa Pilihan Dunia
Karya: Abram WiradmajaAku tersesat di antara ribuan wajah yang ditawarkan dunia,
namun langkahku lumpuh tepat di depan namamu.
Di sana, aku menemukan sesuatu yang tak dimiliki orang lain,
sebuah rumah bagi perasaan yang selama ini luntang-lantung.
Masih lekat di ingatanku, bayanganmu bergetar di permukaan kopi,
sesaat sebelum gelas itu pecah karena tanganku gemetar gugup.
Di bangku taman itu, kamu mengaku sebagai manusia biasa yang penuh lubang kekurangan,
namun bagiku, justru melalui celah-celah itulah cahayamu masuk.
Kamu bukan sekadar hadir, kamu adalah warna yang nekat meresap ke dalam hidupku yang semula hanya abu-abu.
Kini, saat jingga di ufuk barat mulai padam dan bulan mengambil alih malam,
aku tetap menemukanmu.
Bukan sebagai cahaya yang menyilaukan,
melainkan sebagai pendar tenang yang menuntun nuraniku pulang,
tepat saat aku hampir menyerah pada gelap yang pekat.
Palangkaraya, 27 Mei 2026