Perahu Kecil Menatap Matahari
Karya: Erfita SeptiyaniSuara lembutmu bagai kapas putih,
menyelimuti hati yang hampir beku.
Setiap langkahmu adalah bara kecil
yang diam-diam menyalakan semangatku.
Di pagi hari, matahari bersinar,
senyummu menjadi fajar paling hangat.
Sementara tawamu menjelma angin
yang menggoyangkan taman di dadaku.
Suaramu adalah hujan rintik
di musim kemarau yang panjang.
Aku hanyalah perahu kecil
yang tersesat di kedalaman indah itu.
Setiap kali aku melihatmu,
hanya rasa kagum yang menyertainya.
Di antara belah kesunyian,
aku diam-diam merindukanmu.
Dulu kehadiranmu seperti matahari
di tengah hariku yang kehilangan arah,
menerangi suntuknya pikiranku,
dan membuat dunia terasa hangat.
Kini diam-diam
kau menghilang seperti debu,
di langit paling rahasia dalam hatiku—
jauh, tetapi selalu ingin kupandang selamanya.
Gunungkidul, 29 Mei 2026