Karya: Sahra Nurseptiani
Pada lengkung senyummu yang tak sempat terbaca,
aku menemukan alasan mengapa semesta menciptakan cahaya.
Kau adalah simfoni yang dimainkan tanpa suara,
mengetuk pintu batinku yang lama terkunci rasa biasa.
Tak perlu kata untuk mengeja megahmu,
sebab hadirmu serupa fajar yang membasuh ragu.
Aku hanyalah penonton di barisan paling belakang,
yang terpaku menatap caramu melukis tenang
di atas kanvas hari yang semula gersang.
Jika kagum ini adalah sebuah ibadah visual,
biarkan aku menetap dalam hening yang kekal.
Sebab bagiku, kau bukan sekadar rupa yang tertangkap mata,
melainkan puisi hidup yang takkan pernah tuntas dieja.
Cukup bagiku mengagumimu dari kejauhan rasi,
menjaga binar itu agar tetap abadi di kedalaman hati.
Cianjur, 20 Mei 2026