Karya: Yati Indriyani
Pasir itu meluruh bersama deras angin
di bawah langit yang menghitam,
seolah ada suara lirih yang terus berkata:
“jangan.”
Aku menilik peliknya ombak berderai,
tapi tak seorang pun yang berani menggapai.
Bagaimana mungkin dia terus berdebar,
padahal pasir enggan untuk tinggal.
Laut menelannya tanpa suara,
menyisakan asin yang lama mengendap
pada karang-karang bisu
yang perlahan terlupakan dalam senyap.
Remang rembulan membilang,
waktu datang bersama diam
untuk sekadar membuktikan
apakah akhirnya adalah kehilangan
atau kesyahduan yang saling menemukan?
Lampung, 20 Mei 2026