Surat untuk Langit yang Tak Terbaca
Karya: Raiza HanifaLangit, kutitip rindu dalam huruf-huruf sepi,
menulis harap yang tak pernah padam.
Di selubung awan terdampar doa pagi,
mengintip lembut dari jendela kenangan.
Kala senja merapuh, kususun kata tentang rumah,
tentang langkah kecil yang mencari makna.
Bintang-bintang mendengar, namun tak sempat membalas;
mereka menahan cahaya untukku.
Jika surat ini terbang dan tak sampai,
biarlah angin jadi kurir setia
membawa sisa keberanian dan cinta,
hingga suatu hari langit membacanya sendiri.
Di malam lembut kutaruh nama-nama sepi,
menyulam harap di tepi waktu yang rawan lupa.
Ada keinginan yang kutahan di rongga dada,
kata tak terucap karena takut mengusik sunyi.
Namun kuharap, meski tak tersampaikan, ia jadi lentera
menuntun langkah, menguatkan suara yang akan datang.
Surat ini bukan untuk dijawab, hanya disimpan
sebagai saksi bahwa manusia pernah berani menulis rindu.
Paraman Ampalu, 28 Juni 2026