Sisa Pantulan
Karya: Tari munikaAku lahir sebagai lingkaran
penuh udara,
penuh arah,
penuh suara yang kusebut milikku.
Lalu rumah mulai mengajariku
cara menjadi anak baik
mengangguk,
mengecil,
dan memantul sesuai tendangan.
Ayah meniup cita-cita
hingga tubuhku terlalu sesak
untuk menampung diri sendiri.
Ibu menempelkan takut
rapat-rapat pada kulitku
agar aku tak keluar jalur.
Maka aku terus bergerak
dari satu “harus”
ke “harus” lainnya,
sementara perlahan
kehilangan bentuk.
Tak ada yang mendengar
udara dalam dadaku
bocor setiap kali aku berkata,
“iya.”
Kini aku tergeletak
di sudut ruang keluarga
kempis,
berdebu,
dan asing bagi pantulanku sendiri.
Dan malam ini
aku baru mengerti
barangkali sejak awal
mereka tak pernah benar-benar menginginkan aku.
Hanya bentukku.
Padang,31 mei 2026