Rasa yang tak terucap
Karya: DickyAku menyimpan namamu di antara bait-bait doa,
di tempat yang bahkan malaikatpun segan membacanya.
Karena jika disebut lantang,
takutnya semesta mendengar
dan mentertawakanku.
Aku menanam rindu di tanah yang salah.
Menyiramnya dengan diam,
memupuknya dengan tatap yang buru-buru kubuang
saat matamu menoleh.
Kubungkam segala kata di bibir yang kelu.
Dadaku retak menahan seribu nama.
Di antara napas yang tertahan, rindu menjelma badai.
Aku menghafal lekuk senyummu seperti doa yang tak putus.
Aku menjaga sepi milikmu, meski bukan aku tujuannya.
Aku mencintaimu dengan cara yang tak pernah kau minta.
Dan berpura-pura biasa saat semesta mempertemukan kita.
Tapi aku hanya tersenyum.
Karena harap yang tak tersampaikan
lebih aman tinggal di dada
daripada mati diucapkan.
Biarlah ia jadi rahasia.
Jadi sajak yang tak pernah kutulis,
surat yang tak pernah kukirim,
nama yang tak pernah kupanggil.
Biarlah.
Aku belajar dari semesta
bahwa ada cinta yang tugasnya hanya mengantar,
bukan menetap.
Setia tanpa genggam,
setia sampai habis.
TOBOALI, 11 Juli 2026