Alamat yang Dikenal Langit
Karya: Diego Disentrius BlegurDi meja itu kausisakan kursi kosong,
lampu menyala meski tiada yang membaca.
Amplop-amplop menumpuk di sudut jendela,
alamat lama, tinta yang mulai pudar.
Doa kutulis di uap kaca subuh,
kauhapus dengan telapak yang gemetar.
Sepatu di rak masih menunggu langkah,
lantai hanya menyimpan jejak debu.
Ketika lonceng gereja berhenti sejenak,
sesuatu di dadaku menahan napas.
Kursi itu bergeser, entah oleh angin
atau oleh nama yang kausebut dalam mimpi.
Kini pintu terbuka tanpa kuketuk,
dan surat itu akhirnya sampai,
bukan ke tanganku, tapi ke alamat
yang sejak dulu hanya dikenal langit.
Kupang, 17 Juli 2026