Sebelum Diam Menjadi Takdir
Karya: Dwi HanifaNamamu telah lama kulepaskan
dari ujung lidah,
tetapi gema langkahmu
masih menetap
di lorong yang tak dijangkau waktu.
Aku tak pernah menunggu
engkau kembali.
Yang kupelihara hanyalah kemungkinan
bahwa suatu hari
hatimu berani menatap
jejak yang kausinggahi
dengan tergesa.
Kupikir,
setiap luka mengenal jalan pulang
melalui sepotong pengakuan.
Namun musim berganti,
dan diam tetap memilih
menjadi rumahmu.
Sejak itu aku mengerti,
tidak semua yang patah
mencari tangan untuk disatukan.
Ada yang dibiarkan utuh
dalam bentuk retak,
agar manusia belajar
bahwa yang paling sukar dilepaskan
bukan kehilangan,
melainkan jawaban
yang tak pernah dilahirkan
Selatpanjang,12 Juli 2026