Musim yang Menyebut Namaku
Karya: Dwi Yana Riski WaruwuMusim yang Menyebut Namaku
Di telapak fajar kutitipkan doa,
seperti benih yang rela dikubur
demi musim yang belum bernama.
Langit tak segera menjawab;
ia memilih diam,
mengajari akar memeluk tanah
sebelum dahan mengenal cahaya.
Barulah kupahami,
Tuhan tak menulis kasih dengan kilat,
melainkan embun
yang tak terdengar jatuh,
namun sanggup membangunkan kehidupan.
Ketika harapanku gugur,
tumbuh kehendak-Nya.
Saat itulah kusadari:
jawaban terindah bukanlah dunia yang berubah,
melainkan hatiku
yang akhirnya sanggup percaya,
sebab setiap penantian
adalah musim
yang diam-diam mematangkan jiwaku
di dalam kasih-Nya.
Yogyakarta, 16 Juli 2026