Sepotong Lengkung di Atas Puing
Karya: Evina Puji AmeliaTerlahir di rahim gang yang terengah,
di mana iman hanya gema yang enggan singgah.
Tak ada yang menuntunku mengeja langit,
kami telah menyerah sebelum sempat menamakannya.
Lelaki yang menitipkan darahnya di tubuhku,
ialah guru bagi gelap.
Ia mengajariku tumbuh di antara asap,
dan gemerlap malam yang bejat.
Aku berkembang sebagai jelaga,
hingga sebaris doa melintas.
Dari orang yang tak pernah singgah,
untuk menitipkan keberkahan hidup.
Kini asap knalpot menjadi wewangianku.
Sedang ukulele adalah satu-satunya harta berhargaku.
Di persimpangan jalan, seseorang mendekap anaknya:
“Jangan sampai menyerupai itu.”
Maka aku menengadah pada langit,
yang sudah lama menjadi tempat bernaung.
Baik saat hujan membasahi lukaku,
maupun saat kemarau menguji ketabahanku.
Hanya untuk bertanya,
Ke manakah doa dulu itu berlayar?
Atau memang kemuliaan terlalu mahal,
untuk jiwa yang terbuat dari debu?
Salatiga, 20 Juli 2026