Harap yang Membisu
Karya: Fitri Maulida RahmatDi ujung lidahku, ada nama yang patah,
terlipat rapi di antara diam dan dada
setiap malam kubaca tanpa suara,
seolah rindu bisa pulang lewat udara.
Aku menanam harap pada tanah yang kering,
menyiramnya dengan sabar yang tak tampak
namun yang tumbuh hanya bayang yang bening,
sebuah luka yang belajar tetap lembut.
Bibirku pernah hampir menjadi pintu,
namun takut lebih dulu menutupnya
maka kusimpan semua yang ingin kutuju,
di ruang paling sunyi dalam diriku sendiri.
Jika kelak harap itu tak sempat terdengar,
biarlah ia hidup sebagai cahaya yang larut
sebab yang tak pernah sampai ke luar,
kadang paling lama berdiam di dalam.
Cianjur, 18 Juli 2026