Ketika Langit Mengucap Amin
Karya: Ibrahim TandoMalam itu, aku tak lagi menghitung bintang.
Aku hanya menghitung berapa kali air mata
jatuh sebelum menyentuh sajadah.
Kupanggil nama-Mu lirih,
seolah hanya Engkau yang masih percaya
bahwa aku mampu bertahan.
Tak pernah kuminta hidup tanpa luka,
aku hanya memohon
agar langkahku tidak berhenti oleh kecewa.
Sebab ada hari-hari
ketika harapan terasa lebih jauh daripada langit,
dan senyum hanyalah topeng
bagi hati yang diam-diam hancur.
Namun Engkau tak menjawab dengan tergesa.
Engkau membiarkan waktu mengajariku
bahwa sabar bukan sekadar menunggu,
melainkan tetap percaya
meski mata belum melihat cahaya.
Hingga pada suatu pagi,
aku menemukan jawaban itu.
Bukan dalam gemerlap keajaiban,
melainkan pada hati
yang tak lagi marah kepada takdir.
Luka yang dulu kupeluk
berubah menjadi jalan pulang,
air mata yang dulu kusembunyikan
menjadi saksi betapa dekat kasih-Mu.
Kini aku mengerti,
doa tak pernah hilang di langit.
Ia hanya sedang menunggu
waktu terbaik untuk kembali sebagai anugerah.
Dan ketika langit akhirnya mengucap amin,
aku menangis...
bukan karena semua keinginanku terkabul,
melainkan karena kusadari,
bahkan saat aku merasa sendiri,
Engkau tak pernah sekalipun melepaskan genggaman-Mu.
Palopo, 7 Juli 2026