Kita yang Tidak Sempat Terjadi
Karya: Nazwa SyifaPukul setengah delapan pagi yang beku,
kita duduk di ruang tunggu.
Dua orang asing,
menghangatkan jemari dalam diam.
Nomor antrean satu
meminjamkan kita dua puluh menit.
Di seberang meja kayu,
kutemukan noda tinta pada lengan kemejamu,
ketukan pulpenmu,
dan waktu yang sesekali tersendat
bersama sistem yang lambat tunduk.
Kita selesai
sebelum sempat saling mengenal.
Malam itu kubuka halaman pertama buku tabungan.
Di pojok kanan bawah,
tinta biru menuliskan satu nama:
Nathaniel
Sejak itu,
jarak tak lagi diukur oleh kilometer,
melainkan oleh keyakinan
yang tak pernah belajar berkompromi.
Bulan depan aku berangkat merantau,
membawa koper,
buku tabungan,
dan sebuah kemungkinan
yang bahkan belum sempat memiliki kenangan.
Barangkali,
kehilangan memang tak selalu meminta izin.
Sebagiannya lahir
dari nomor antrean satu,
lalu menetap seumur ingatan
sebagai harap
yang tak pernah tersampaikan.
Bekasi, 3 Juli 2026