berbinar di celah kesunyian
Karya: SUCI KIRANA YUSUFSaat senja mulai tenggelam,
angin mendayuh seolah membisikan sepatah kalimat,
menanyakan mengapa ada genangan air di bola mataku.
Sedang bumi mengajarkanku
bahwa menunggu adalah ibadah yang paling sunyi.
Maka kutitipkan doa
pada desir angin yang tak bernama,
pada embun yang menggigil
di ujung daun sebelum fajar,
pada malam yang tekun
menjahit luka dengan benang-benang bintang.
Tak sekali pun kudengar jawaban.
Yang datang hanya hening,
mengendap seperti hujan
di balik awan yang enggan pecah.
Aku hampir mengira
Tuhan sedang lupa,
padahal Dia sedang merangkai waktu
agar harap tak gugur sebelum mekar.
Lalu suatu pagi,
cahaya mengetuk pintu hidupku
tanpa dentang, tanpa gegap gempita.
Ia menyelinap lembut,
berbinar di celah kesunyian,
membasuh seluruh resah
yang lama berdiam di dadaku.
Bogor, 8 Juli 2026