Karya: Alya Amandari
Di ambang malam,
ketika bulan menggantungkan sunyi
di pucuk-pucuk langit,
ribuan doa berlayar—
seperti serpih cahaya
yang mencari muara.
Ada telapak tangan
yang menghangatkan harap,
ada dahi yang menunduk
menyentuh dinginnya bumi,
ada bibir yang lirih
menjahit nama-Nya
ke dalam gelap.
Doa-doa itu berbeda suara,
berbeda bahasa,
berbeda jalan menuju langit.
Namun dengarlah—
di balik segala perbedaan,
ada detak yang sama:
jantung manusia
yang takut kehilangan,
yang ingin diselamatkan,
yang masih percaya
bahwa esok pantas diperjuangkan.
Barangkali Tuhan
tidak menanam perbedaan
untuk menjadi pagar.
Barangkali Ia menaburkannya
seperti warna di cakrawala,
agar kita belajar:
keindahan tidak lahir
dari keseragaman.
Maka biarkan doa
menjadi jembatan
di antara hati-hati
yang tak selalu searah.
Sebab ketika dunia
sibuk menghitung perbedaan,
semoga kita masih ingat—
sebelum doa-doa kita
mencari langit,
kita semua
lahir dari bumi yang sama.
Bungo, 28 Agustus 2026