Karya: Christina Julyana Soant Sitanggang
Dahulu jemarimu adalah rumah hangat
Kita menenun hari tanpa menakar arah
Kau memelukku sebagai manusia utuh
Bukan susunan dogma yang bertikai
Di matamu aku lupa pijakan kita bertolak belakang
Namun waktu memaksa kita berdiri di batas tajam
Gema lonceng katedralku memotong petang
Bersahutan ketukan azanmu yang memanggil pulang
Kita bertekuk lutut di lantai terpisah
Jemariku rapat melipat menghadap Salib
Jemarimu menengadah pasrah menghadap Kiblat
Tiang rumah ibadah menjelma sekat
Cinta ini tak salah namun keadaan menghukum kita
Kini dadaku diredam kesunyian ngilu
Dikalahkan aturan yang memisahkan
Aku menjadi korban kasih yang jujur
Lututku pasrah meluruh pada duka
Diseret kenyataan bahwa iman tak sama
Meninggalkan aku hancur dalam doa
Yang menggantung di udara
Tanpa titik
Tanpa muara
Tanpa akhir merelakan
Medan, 23 Agustus 2026