Dibaca: Memuat...
Rumah Tanpa Nama Tuhan
Karya: Elvira TurnipDi ranjang malam, kudengar bisik-bisik berbeda bahasa,
setiap rumah menyimpan altar yang tak serupa,
namun nyala kecil dan suara yang memanggil dari kejauhan sama-sama naik ke langit yang satu.
Aku belajar dari ibu: doa bukan kata yang harus sama diucap,
melainkan luka yang sama-sama ingin sembuh.
Di persimpangan iman, kita berdiri dengan telapak berlainan arah,
tapi arah yang berbeda kadang bertemu di titik yang sama: kerinduan.
Aku menyaksikan tetangga menangis dalam sujud yang tak kukenal,
dan air matanya basah seperti air mataku sendiri.
Mungkin Tuhan tidak sepenuhnya milik satu bahasa,
Ia hidup di sela-sela kata yang berbeda,
menjelma jadi jembatan ketika manusia lupa cara pulang.
Maka biarkan doa kita menjadi sungai yang mengalir dari mata air berbeda,
bertemu di muara yang satu: kemanusiaan yang saling menjaga.
Kabupaten Simalungun, 6 Agustus 2026