Karya: NAURA YULIA HARAHAP
Wahai Engkau, yang meneteskan secercah harapan, meluapkan perasaan, menumbuhkan rasa cinta kepadaku.
Kami bersujud di bawah langit yang satu,
namun menghadap kiblat yang tak bertemu.
Tak berdaya menyaksikan ini, bertaut pada satu kesaksian, bersaksi pada satu keyakinan, dan kau menimpa rasa kecewa.
Langit yang tak pernah berkata, sekarang dia berkata lain, membisikkan persarakan, karena iman yang tak sama.
Dia berkata "mustahil", sulit menyatukan antara kau dan aku.
Jemari kita ingin saling menggenggam,kau sebut nama-Nya dalam damai senyapmu,aku mengeja-Nya dalam riuh lantangku.
Dermaga yang dijalani pupus di tengah jalan, badai yang dilalui sia-sia berakhir di tengah jalan tanpa sampai di ujung pelabuhan, dengan kata yang menghancurkan kita, "Iman Tak Sama."
Ia retakkan rencana kita, menangis dalam kesepian, berlarut dalam kehancuran, menyaksikan ketidakpastian.
Mungkin langit sengaja membuat kita memaksa bukan untuk saling mematahkan rasa.Tapi untuk menguji seberapa luas dada,mencintai ciptaan-Nya tanpa memaksa.
Duri, 23 Agustus 2026