Kiblat yang Saling Membelakangi
Karya: Vera Amelia WidyawatiDi bawah selasarpura yang dikasapi senja,
kau menimang harum kayu cendana, mengeja sunyi.
Sementara di ujung selasar, jemariku meraba
butir-butir tasbih—menghitung gema yang sama ganjilnya.
Kita adalah dua baris kidung dalam satu kitab,
dibaca berurutan, namun tak pernah bersua dalam satu bait.
Dua sungai sejajar yang meratap di bawah langit Jawa,
mencari muara yang sengaja dipisahkan tebing takdir.
Darah kita mengepulkan rindu yang sama pekat,
namun keningmu menyentuh batu, keningku bersimpuh di sajadah.
Tuhan yang kita sapa dengan nama berlainan
mungkin sedang merajut duka kita menjadi benang magrib.
Bila kelak gerbang langit hanya muat untuk satu sukma,
biarkan aku tinggal di pelataran bumi yang asing ini—
sebab mencintaimu adalah ibadat terpanjang,
yang kusembahyangankan di luar garis kitabmu.
Gresik, 7 Agustus 2026